Wednesday, June 11, 2014

Debat Capres


Beberapa hari lalu kebanyakan orang heboh tentang Debat Capres, Saya tidak terlalu tertarik karena sikap politik saya hingga saat ini jelas, saya tidak mencoblos untuk memilih pemimpin saya.
Sempat beberapa menit saya melirik televisi saat itu, tp itu juga karena mau tidak mau soalnya saat itu saya lagi makan malam di warung langganan saya. Yang saya ingat waktu itu lg jeda dan seorang “pengamat” mengatakan dia  mendapatkan “tweet” dari Eep Saifullah Fatah bahwa kertas yg terlihat keluar dari jas Jokowi itu adalah titipan do’a dari ibundanya.
Sa’at itu dalam hati saya apa peduli saya toh saya juga gak melihat “adegan “ keluarnya kertas tersebut.  Yang saya tangkap saat itu Cuma sekilas (krn saya gak nonton full) Jokowi dan Yusuf Kalla lebih “Mantap” dibanding Prabowo dan Hatta. Meski Jokowi bilang tentang manajemen pengawasan terasa sumir karena Kasus Bus Trans Jakarta dia “dibobol” oleh Udar Pritono hanya dalam waktu kurang dari 2 tahun pemerintahannya tapi saya juga sinis sama Hatta Rajasa yang bilang penegakan hukum tumpul ke atas tajam ke bawah karena kita juga tahu kasus “pembunuhan” oleh anaknya dengan mobilnya.
Hari berikutnya isu “kertas nyembul” makin kencang bahkan pakai penegasan yang dibesar-besarkan bahwa itu do’a Nabi Musa (Alahissalam) menghadapi Fir’aun; dalam hati saya sebegitu burukkah lawan Jokowi sampai di analogikan, Jokowi Nabi Musa (alaihissalam) dan Prabowo Fir’aun?. Istigfar saya kalau sampai itu benar-benar analoginya karena itu “perlakuan sarkastis luar biasa buat manusia” yang notabene mereka sama-sama “Muslim”.  Ada juga saya lihat foto-foto lain yang membandingkan antara kertas kecil yang di pegang oleh Jokowi dengan “kertas nyembul” bahwa itu tidak mungkin kertas do’a karena  bentuknya yg kecil.
Sampai saat itupun menurut saya apa peduli saya? Toh kalaupun itu adalah “contekan” materi debat yang berisi Visi dan Misi-nya Jokowi apa salahnya? Bahwa Visi Misi keduanya bukan sebaris dua baris yang mudah bisa dihapalkan bukan?
Waktu berlalu, dan kalau saya online selain download beberapa keperluan kerja saya (Saya kerja bidang IT dan seringkali memerlukan driver untuk alat yang saya tangani), biasanya saya sambil menunggu, saya buka juga situs berita yang kebetulan saat itu Klub Bola PS. Barito Putera habis bermain lawan Persib Bandung di Jalak harupat dan Barito kalah 3-1 (So sad for me), saya ingin tahu komentar komentar dari pemain atau penonton juga di Facebook. Nah, saat baca-baca artikel itulah ada tautan berita menarik di Tribunnews yg intinya menanyakan tanggapan Romy (Sekjen PPP) tentang Do’a Nabi Musa (Alaihissalam) berhadapan dengan Fir’aun yang gambarnya kali ini “Jokowi sedang duduk memegang kertas kecil”. Entah kenapa saya tertarik melihatnya lebih detil, mungkin pikir saya kalau saya bisa membaca do’anya bisa saya praktekkan (walau saya juga ragu takutnya tanpa guru itu bisa jadi taqlid) tapi apa salahnya belajar atau minimal jd tahu do’a tersebut.
Dan hasilnya, Kaget hampir terlonjak saya dari duduk.  Tulisan di kertas kecil tersebut adalah : “Rabbisrahli Shodri, wayassirli amri, wahlul uqdatammillisani…. Dst”.
Masya’ Allah itukan do’a yg diajarkan guru-guru saya waktu saya masih di bangku SD atau “Sekolah Arab” (Mungkin sekarang TK-TP Alqur’an tapi “sekolah arab” kami waktu tidak mengenal kata lulus apalagi ijazah) sebagai do’a memulai belajar. Do’a itu sudah kami hapalkan dan baca setiap mau memulai pelajaran pertama; mungkin sekarangpun masih di ajarkan. Tapi yang jelas lebih dari 25 tahun silam do’a itu selalu melekat di ingatan saya jauh lebih saya hapal di bandingkan rumus-rumus kimia organik atau matematika aljabar yg saya peroleh saat kuliah. Do’a yang juga dihapal luar kepala oleh keponakan saya, saat ini baru lulus SD, apa perlunya ditulis dan dibawa-bawa oleh seorang Capres?
Ternyata bodohnya saya selama ini tidak tahu bahwa yang di ajarkan guru-guru agama dan orang tua kami adalah Do’a Nabi Musa (Alaihissalam) menghadapi Fir’aun. Yang saya tahu itu do’a awal belajar dan do’a penerang hati meminta di mudahkan menyerap pelajaran, karena di awal do’a di tambahkan “Radhitubillahi rabba, wabil islamidina, wabi muhammadinnabiyawwarasula.. Rabbi zidni ilma warzukni fahma… ” (Aku Ridha Allah SWT tuhaku, Dan Islam agama bagiku, dan Muhammad (Shalallahu alaihi wasallam) seorang Nabi dan Rasul bagiku) dan dilengkapi dengan “Rabbisrahli Shodri” tadi.
Selanjutnya saya makin penasaran dan coba googling; saya mendapatkan penjelasan bahwa itu adalah kutipan Surah Tahaa ayat 25 – 28; yang menurut artinya memang di baca oleh Nabi Musa (Alaihissalam) ketika akan bertemu Fir’aun. Dan jelaslah sudah memang demikian adanya.
Dalam hati saya, saya berterima kasih pada guru-guru agama dan orang tua yang mengajarkan itu lebih dari 25 tahun silam; Seingat saya; Saya harus berterima kasih pada Alm. Abah, Bu Arbainah Guru Agama SD saya, Pak Hamsuni dan Pak Abu Bakar Guru Sekolah Arab, Serta yg pasti Alm. Pak Badruzzaman (dibuku sederhana (bukan karya cetakan penerbit tp buku fookopi)  tulisan tangan “Arab Melayu” karangan beliau berjudul “Buku  Ibadah” saya masih bisa baca Do’a tersebut). Mudahan ilmu yg bermanfa’at ini senantiasa menjadi amal yg tak terputus hingga di alam barzah.
Kembali ke topik…..
Saya bertanya dalam hati, apa memang kami “di kampung” sajakah yg di ajarkan do’a ini? Sampai perlunya seorang Capres membuat “contekan” do’a tersebut? Saya coba berbaik sangka beliau sebenarnya hapal, tapi apa perlunya juga bawa “kertas nyembul”? apa jadi jimat? Wah ini jauh lebih buruk kalau benar jimat. Kalau misal benar itu titipan do’a dari ibundanya artinya itu baru di ajarkan setelah anak mau jadi presiden? Astagfirullah, jadi selama ini ………..???  
Ah Entahlah… Baik sangka saya minimal saat itu Sang Capres masih berdo’a supaya lisannya “didengar” penonton.
Yang mungkin saya sesalkan dan prihatin adalah “membesar-besarkan” kalimat Do’a  Nabi Musa (Alaihissalam) menghadapi Fir’aun sebagaimana judul artikel di www.tribunnews.com . Seolah olah ini adalah Seorang Nabi berhadapan dengan Si Sombong Fir’aun.
Padahal kalau mau analisa mudahan bukan “berburuk sangka” bisa jadi ini adalah setingan agar Sang Capres terlihat makin kinclong di mata rakyat.
Seseorang pernah menulis : “Jangan remehkan keganjilan meski tak seberapa, bisa jadi ada sesuatu yang besar dibaliknya. Apa yang tak wajar, kemungkinan ada problem di baliknya, ada yang tersembunyi. Tampil memukau, mungkin untuk memperdaya. Tak mesti curiga, tapi waspada. Tak dibuat-buat, tapi apa adanya. Wajar bukan rekayasa. Daripada hebat, tapi akting.”


Settingnya begini :
1.       Harus ada foto yang dipersiapkan ketika Sang Capres memegang kertas bertuliskan Do’a tersebut. Ya tentu itu bisa saja dilakukan sebagai akting awal, karena foto memegang kertas kecil “sepertinya” diambil sebelum Sang Capres  menuju Podium dan kalau dilihat dari sudut pengambilan foto teramat sangat kecil kemungkinan foto diambil oleh wartawan krn jaraknya sangat dekat dengan posisi duduk Sang Capres yg notabene pengawalan ketat dan melekat sudah ada padanya sejak dia ditetapkan KPU sebagai capres. Oleh karena itu selidiki dulu oleh siapa dan kapan foto itu diambil.
2.       Harus ada insiden “kertas nyembul” agar skenarionya sempurna mendapatkan komentar. Bisa jadi ini akting disengaja.  Tapi ma’af kalau soal insiden itu silahkan lihat lagi tayangan ulangnya karena seperti saya jelaskan di atas saya sama sekali tidak melihat kertas nyembul di jas Sang Capres krn saya bukan ahli teater dan tidak tertarik menyaksikan orang saling berbantah-bantahan.
3.       Dari yang saya baca di artikel, Komentar pertama dan klarifkasi awal “Kertas Nyembul” itu adalah kertas do’a yang dititip oleh bunda Sang Capres berasal dari Eep Saifullah Fatah, setahu dia adalah konsultan pemenangan pemilu Sang Capres, di twitter dan saya melihat janggalnya langsung ada komentar dari followernya yang menyatakan itu do’a Nabi Musa (Alaihissalam) menghadapi Fir’aun.  Kalau memang kertas itu berisi tulisan do’a. Pertanyaannya? Seberapa dekatkah Eep menonton acara debat tersebut sampai bisa memastikan itu adalah ketas do’a? dan seberapa dekat juga hubungannya dengan Sang Capres hingga memastikan bahwa kertas do’a tersebut diletakkan di balik jas bukan di saku celana? Selanjutnya, bagaimana mungkin follower tersebut (patut diduga ini bukan follower biasa) bisa tahu itu adalah Do’a Nabi Musa (Alaihissalam) menghadapi Fir’aun, Kalau foto memegang kertas kecil itu diambil setelah acara debat? Sementara sa’at itu debat masih berlangsung komentator TV juga menyebutkan tentang kertas tersebut. Jadi, kecurigaan foto “dipersiapkan” sebelum debat untuk “trik” dan skenario berikutnya rasanya lebih masuk akal.
Silahkan analisa dan pikirkan apakah itu bagian skenario yang sengaja di setting? Mudahan tidak karena saya tetap berusaha baik sangka dan tetap menjaga “netralitas” sebagai swing voter J

Yang saya tidak habis pikir hanya rasanya terlalu sadis menganggap diri Nabi Musa (Alaihissalam) dan kubu lain adalah Fir’aun, karena boleh jadi ini adalah “pembalasan” setelah sebelumnya kubu lain meng-analogi-kan pertarungan merebut tahta presiden ini layaknya Perang Badar. Dan kalau ini memang skenario pembalasan dendam maka negeri ini ada diatas perjuangan berlandaskan dendam.
Terakhir, mungkin ini jadi renungan buat kita semua, umat islam khususnya,

"Wahai orang-orang yang beriman, Jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan aib orang lain; dan janganlah kamu mengumpat sebagian yang lain. Apakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, jauhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." ( QS. Al- Hujarat : 12 )

Dan Petuah Ustadz Felix Siaw pagi ini :
1. Al-Qur'an menuntun soal kepemimpinan dan pemerintahan | sebagaimana Al-Qur'an mengatur segala sesuatu yang lain
2. "ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya"(QS 7:3)
3. Ibnu Katsir menulis dalam tafsirnya | "yakni ikutilah jejak Nabi yang ummi yang datang kepada kalian dengan membawa Kitab"
4. masih dalam tafsir Ibnu Katsir | "yakni, janganlah keluar dari ajaran yang dibawa oleh Rasul kepada kalian menuju ajaran yang lainnya"
5. "(jangan) lalu kalian beralih dari hukum Allah kepada hukum selain-Nya" | begitu tulis Ibnu Katsir mengenai tafsir ayat ini
6. ayat ini jelas bermakna bahwa Allah melarang kaum Muslim dan pemimpin kaum Muslim | untuk menerapkan hukum selain hukum Allah Swt
7. larangan mengikuti hukum selain hukum Allah ini bertebar ratusan dalam Al-Qur'an | misal QS 5:44, QS 5:45, QS 5:47, QS 5:49, QS 5:50
8. apa maksud hukum Allah? ialah syariat Allah, yang terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah | yang Rasul amanahkan pada kita sebelum wafat
9. maka Kitabullah dan Sunnah inilah yang harusnya menjadi dasar hukum | bukan yang lain, bukan hukum yang dibuat lewat proses demokrasi
10. karena dalam demokrasi yang halal dan haram bisa ditentukan manusia | dalam Islam halal haram hanya Allah yang berhak tentukan
11. maka Allah tidak hanya menuntut Muslim untuk memiliki pemimpin | tapi mewajibkan pula pemimpin ini menerapkan hukum Allah
12. Allah bukan hanya mewajibkan pemimpin haruslah Muslim | tapi juga mewajibkan dia menerapkan Islam
13. saat dihadapkan pada pemimpin-pemimpin yang tak mau menerap syariat | bukan lantas kewajiban mengingatkan ummat jadi hilang
14. justru mengingatkan ummat jadi kian penting | saat orang hanya berdebat tentang 'siapa yang pantas', bukan 'dengan apa dia pantas'
15. justru jadi makin penting untuk mengingatkan setiap orang | bahwa tidak ada pemimpin yang pantas, tanpa diterapkannya syariat Allah
16. harusnya kita bosan dengan seruan-seruan yang mengunggulkan pribadi | tapi bukan mengunggulkan Islam yang dia bawa, syariat Allah?
17. berani, tegas, berwibawa, tak ada artinya bila bukan untuk Allah | merakyat, peduli, sederhana, percuma saja bila tak terap Islam
18. sekecil apapun kebaikan bila karena Allah, Allah akan melihatnya | sebesar apapun prestasi bila bukan karena Allah, nol
19. berhukum dengan hukum Allah itu wajib, terlebih lagi pemimpin | harusnya semua Muslim jangan melupakan kewajiban mulia ini
20. karena Al-Qur'an bukan diturunkan untuk jadi pajangan | ada calon pemimpin yang berani menerapkan Al-Qur'an? kita dukung

Semoga Allah Subhana Wa ta’ala memberikan berkah-Nya buat kita semua. Wassalam.

Sunday, May 18, 2014

Surat Pertamaku Buatmu, Anakku.

KEBETULAN LIMA…

Anakku,....
Beberapa menit lg adalah Ultahmu yang pertama, Abah gak berikan kado buatmu karena di umurmu sekarang kamu belum mengerti apapun tentang kebendaan; abah hanya sampaikan ini dan akan menyimpannya hingga kamu bisa membaca nantinya. Naif memang, seperti meniru film India dimasa abah (Kuch Kuch Hota Hai)... tapi asal kamu tahu inilah bentuk betapa abah menyanyagimu. Owh ya, Abah juga sedang menyiapkan dan menata benda-benda memorabial tentangmu. Dari hasil "Test Pack", Tali Pusar, Tiket Pesawat Pertamamu, dll. Mudahan kedua hal ini membuatmu mengerti betapa kehadiranmu sangat berarti buat Abah dan Mama; dan Kami sayang Kamu.

Entah dari mana kemantapan hati hari itu memberimu nama IQLIMA RANA HANINA (Kalimat / Putri Cantik Penutup Rindu). Yang jelas, memang jauh hari ingin sekali nama anakku mengandung huruf yang jarang dipakai dan itu akhirnya jatuh pada huruf Q.
Panggilanmu LIMA, tidak pernah terbayangkan apalagi terencana , sebuah angka dari penggalan nama lengkapmu. Waktu itu spontan saja ingin namamu mudah diingat. Cukup Ku lihat tanganku dan hitung jarinya maka ada kamu, LIMA.
Bukan nama yg lazim buat orang Indonesia; tapi nama LIMA dipakai di Amerika Latin atau Amerika Selatan yang kemungkinan besar LIMA disana adalah nama keluarga; entahlah; Yang Abah tahu, dimasa Abah, ada pemain bola bernama Luiz Nazario Da Lima atau "El Phenomenon" Ronaldo, dan tentu saja MC cantik pengundian Putaran Final Piala Dunia 2014, Fernanda Lima, dll.

Seterusnya….

Inilah kejutannya, setelah beberapa waktu aku baru menyadari, ternyata LIMA itu :

Kamu; Lahir di bulan LIMA (Mei), 18 Mei 2013. Tepat setahun pernikahan Abah dengan Mama.
Aku adalah anak ke-LIMA dari Tujuh bersaudara,
Nama Badan Hukum Usahaku CV. Generasi Cahaya LIMA, itu setelah usiamu 8 bulan baru aku sadari. Jadi sama sekali bukan karena GC Lima kamu dipanggil LIMA.
Religi? … Rukun Islam ada LIMA, Sholat LIMA waktu, Nabi dan Rasul Dua Puluh LIMA,
Geografi?...Ibukota Negara Peru itu LIMA. Benua besar Dunia jumlahnya LIMA.
Panca Indera dan Para Pandawa? Jelas LIMA
Empat Sehat, LIMA Sempurna.
Dan seterusnya………

Jadi itulah sebagian makna namamu buatku, Anakku....
Kamu yang memiliki nama panggilan unik ini; ceritakan saja pada mereka yang menanyakan makna namamu; Bahwa LIMA itu banyak makna, LIMA itu Sempurna. :)

Akhirnya, dibalik semua kebetulan itu tersirat do’a dan harapan; Semoga kamu menjadi penutup (penyempurna) kerinduan Makhluk pada Cinta Sang Khaliq; Penyejuk bagi mata dan jiwa yang sempurna bagi kedua orangtua;  jadi anak yang solehah; dan akan senantiasa memanjatkan do’a bagi Abah dan Mama ketika telah tiada.

Selamat Ulang Tahun Pertama buatmu; semoga semakin bertambahnya umur semakin ditambahkan kepandaian pada hikmah, ilmu, dan iman sebagai bagian dari pengabdian hamba pada Sang Maha Cinta.

Barabai, Kalimantan Selatan. Mei 2014.
Dengan Cinta,
Abah.


Abdullah Fauzi