Beberapa hari lalu kebanyakan
orang heboh tentang Debat Capres, Saya tidak terlalu tertarik karena sikap politik saya hingga saat ini jelas, saya tidak
mencoblos untuk memilih pemimpin saya.
Sempat beberapa menit saya melirik televisi
saat itu, tp itu juga karena mau tidak mau soalnya saat itu saya lagi makan
malam di warung langganan saya. Yang saya ingat waktu itu lg jeda dan seorang
“pengamat” mengatakan dia mendapatkan
“tweet” dari Eep Saifullah Fatah bahwa kertas yg terlihat keluar dari jas
Jokowi itu adalah titipan do’a dari ibundanya.
Sa’at itu dalam hati saya apa peduli saya toh
saya juga gak melihat “adegan “ keluarnya kertas tersebut. Yang saya tangkap saat itu Cuma sekilas (krn
saya gak nonton full) Jokowi dan Yusuf Kalla lebih “Mantap” dibanding Prabowo
dan Hatta. Meski Jokowi bilang tentang manajemen pengawasan terasa sumir karena
Kasus Bus Trans Jakarta dia “dibobol” oleh Udar Pritono hanya dalam waktu
kurang dari 2 tahun pemerintahannya tapi saya juga sinis sama Hatta Rajasa yang
bilang penegakan hukum tumpul ke atas tajam ke bawah karena kita juga tahu
kasus “pembunuhan” oleh anaknya dengan mobilnya.
Hari berikutnya isu “kertas nyembul” makin
kencang bahkan pakai penegasan yang dibesar-besarkan bahwa itu do’a Nabi Musa
(Alahissalam) menghadapi Fir’aun; dalam hati saya sebegitu burukkah lawan Jokowi
sampai di analogikan, Jokowi Nabi Musa (alaihissalam) dan Prabowo Fir’aun?.
Istigfar saya kalau sampai itu benar-benar analoginya karena itu “perlakuan
sarkastis luar biasa buat manusia” yang notabene mereka sama-sama
“Muslim”. Ada juga saya lihat foto-foto
lain yang membandingkan antara kertas kecil yang di pegang oleh Jokowi dengan
“kertas nyembul” bahwa itu tidak mungkin kertas do’a karena bentuknya yg kecil.
Sampai saat itupun menurut saya apa peduli
saya? Toh kalaupun itu adalah “contekan” materi debat yang berisi Visi dan
Misi-nya Jokowi apa salahnya? Bahwa Visi Misi keduanya bukan sebaris dua baris
yang mudah bisa dihapalkan bukan?
Waktu berlalu, dan kalau saya online selain
download beberapa keperluan kerja saya (Saya kerja bidang IT dan seringkali
memerlukan driver untuk alat yang saya tangani), biasanya saya sambil menunggu,
saya buka juga situs berita yang kebetulan saat itu Klub Bola PS. Barito Putera
habis bermain lawan Persib Bandung di Jalak harupat dan Barito kalah 3-1 (So
sad for me), saya ingin tahu komentar komentar dari pemain atau penonton juga di
Facebook. Nah, saat baca-baca artikel itulah ada tautan berita menarik di
Tribunnews yg intinya menanyakan tanggapan Romy (Sekjen PPP) tentang Do’a Nabi
Musa (Alaihissalam) berhadapan dengan Fir’aun yang gambarnya kali ini “Jokowi
sedang duduk memegang kertas kecil”. Entah kenapa saya tertarik melihatnya
lebih detil, mungkin pikir saya kalau saya bisa membaca do’anya bisa saya
praktekkan (walau saya juga ragu takutnya tanpa guru itu bisa jadi taqlid) tapi
apa salahnya belajar atau minimal jd tahu do’a tersebut.
Dan hasilnya, Kaget hampir terlonjak saya dari
duduk. Tulisan di kertas kecil tersebut
adalah : “Rabbisrahli Shodri, wayassirli amri, wahlul uqdatammillisani…. Dst”.
Masya’ Allah itukan do’a yg diajarkan guru-guru
saya waktu saya masih di bangku SD atau “Sekolah Arab” (Mungkin sekarang TK-TP
Alqur’an tapi “sekolah arab” kami waktu tidak mengenal kata lulus apalagi
ijazah) sebagai do’a memulai belajar. Do’a itu sudah kami hapalkan dan baca
setiap mau memulai pelajaran pertama; mungkin sekarangpun masih di ajarkan.
Tapi yang jelas lebih dari 25 tahun silam do’a itu selalu melekat di ingatan
saya jauh lebih saya hapal di bandingkan rumus-rumus kimia organik atau
matematika aljabar yg saya peroleh saat kuliah. Do’a yang juga dihapal luar
kepala oleh keponakan saya, saat ini baru lulus SD, apa perlunya ditulis dan
dibawa-bawa oleh seorang Capres?
Ternyata bodohnya saya selama ini tidak tahu
bahwa yang di ajarkan guru-guru agama dan orang tua kami adalah Do’a Nabi Musa
(Alaihissalam) menghadapi Fir’aun. Yang saya tahu itu do’a awal belajar dan
do’a penerang hati meminta di mudahkan menyerap pelajaran, karena di awal do’a
di tambahkan “Radhitubillahi rabba, wabil islamidina, wabi muhammadinnabiyawwarasula..
Rabbi zidni ilma warzukni fahma… ” (Aku Ridha Allah SWT tuhaku, Dan Islam agama
bagiku, dan Muhammad (Shalallahu alaihi wasallam) seorang Nabi dan Rasul bagiku)
dan dilengkapi dengan “Rabbisrahli Shodri” tadi.
Selanjutnya saya makin penasaran dan coba
googling; saya mendapatkan penjelasan bahwa itu adalah kutipan Surah Tahaa ayat
25 – 28; yang menurut artinya memang di baca oleh Nabi Musa (Alaihissalam)
ketika akan bertemu Fir’aun. Dan jelaslah sudah memang demikian adanya.
Dalam hati saya, saya berterima kasih pada
guru-guru agama dan orang tua yang mengajarkan itu lebih dari 25 tahun silam;
Seingat saya; Saya harus berterima kasih pada Alm. Abah, Bu Arbainah Guru Agama
SD saya, Pak Hamsuni dan Pak Abu Bakar Guru Sekolah Arab, Serta yg pasti Alm.
Pak Badruzzaman (dibuku sederhana (bukan karya cetakan penerbit tp buku
fookopi) tulisan tangan “Arab Melayu” karangan
beliau berjudul “Buku Ibadah” saya masih
bisa baca Do’a tersebut). Mudahan ilmu yg bermanfa’at ini senantiasa menjadi
amal yg tak terputus hingga di alam barzah.
Kembali ke topik…..
Saya bertanya dalam hati, apa memang kami “di
kampung” sajakah yg di ajarkan do’a ini? Sampai perlunya seorang Capres membuat
“contekan” do’a tersebut? Saya coba berbaik sangka beliau sebenarnya hapal,
tapi apa perlunya juga bawa “kertas nyembul”? apa jadi jimat? Wah ini jauh lebih
buruk kalau benar jimat. Kalau misal benar itu titipan do’a dari ibundanya
artinya itu baru di ajarkan setelah anak mau jadi presiden? Astagfirullah, jadi
selama ini ………..???
Ah Entahlah… Baik sangka saya minimal saat itu
Sang Capres masih berdo’a supaya lisannya “didengar” penonton.
Yang mungkin saya sesalkan dan prihatin adalah
“membesar-besarkan” kalimat Do’a Nabi Musa
(Alaihissalam) menghadapi Fir’aun sebagaimana judul artikel di
www.tribunnews.com . Seolah olah ini adalah Seorang Nabi berhadapan dengan Si
Sombong Fir’aun.
Padahal kalau mau analisa mudahan bukan “berburuk
sangka” bisa jadi ini adalah setingan agar Sang Capres terlihat makin kinclong
di mata rakyat.
Seseorang
pernah menulis : “Jangan remehkan keganjilan meski tak seberapa, bisa jadi ada
sesuatu yang besar dibaliknya. Apa yang tak wajar, kemungkinan ada problem di
baliknya, ada yang tersembunyi. Tampil memukau, mungkin untuk memperdaya. Tak
mesti curiga, tapi waspada. Tak dibuat-buat, tapi apa adanya. Wajar bukan
rekayasa. Daripada hebat, tapi akting.”
Settingnya begini :
1.
Harus
ada foto yang dipersiapkan ketika Sang Capres memegang kertas bertuliskan Do’a
tersebut. Ya tentu itu bisa saja dilakukan sebagai akting awal, karena foto
memegang kertas kecil “sepertinya” diambil sebelum Sang Capres menuju Podium dan kalau dilihat dari sudut
pengambilan foto teramat sangat kecil kemungkinan foto diambil oleh wartawan
krn jaraknya sangat dekat dengan posisi duduk Sang Capres yg notabene
pengawalan ketat dan melekat sudah ada padanya sejak dia ditetapkan KPU sebagai
capres. Oleh karena itu selidiki dulu oleh siapa dan kapan foto itu diambil.
2.
Harus
ada insiden “kertas nyembul” agar skenarionya sempurna mendapatkan komentar.
Bisa jadi ini akting disengaja. Tapi ma’af
kalau soal insiden itu silahkan lihat lagi tayangan ulangnya karena seperti
saya jelaskan di atas saya sama sekali tidak melihat kertas nyembul di jas Sang
Capres krn saya bukan ahli teater dan tidak tertarik menyaksikan orang saling
berbantah-bantahan.
3.
Dari
yang saya baca di artikel, Komentar pertama dan klarifkasi awal “Kertas
Nyembul” itu adalah kertas do’a yang dititip oleh bunda Sang Capres berasal
dari Eep Saifullah Fatah, setahu dia adalah konsultan pemenangan pemilu Sang
Capres, di twitter dan saya melihat janggalnya langsung ada komentar dari
followernya yang menyatakan itu do’a Nabi Musa (Alaihissalam) menghadapi
Fir’aun. Kalau memang kertas itu berisi
tulisan do’a. Pertanyaannya? Seberapa dekatkah Eep menonton acara debat
tersebut sampai bisa memastikan itu adalah ketas do’a? dan seberapa dekat juga
hubungannya dengan Sang Capres hingga memastikan bahwa kertas do’a tersebut diletakkan
di balik jas bukan di saku celana? Selanjutnya, bagaimana mungkin follower
tersebut (patut diduga ini bukan follower biasa) bisa tahu itu adalah Do’a Nabi
Musa (Alaihissalam) menghadapi Fir’aun, Kalau foto memegang kertas kecil itu
diambil setelah acara debat? Sementara sa’at itu debat masih berlangsung
komentator TV juga menyebutkan tentang kertas tersebut. Jadi, kecurigaan foto “dipersiapkan” sebelum
debat untuk “trik” dan skenario berikutnya rasanya lebih masuk akal.
Silahkan analisa dan pikirkan apakah itu bagian
skenario yang sengaja di setting? Mudahan tidak karena saya tetap berusaha baik
sangka dan tetap menjaga “netralitas” sebagai swing voter J
Yang saya tidak habis pikir hanya rasanya
terlalu sadis menganggap diri Nabi Musa (Alaihissalam) dan kubu lain adalah
Fir’aun, karena boleh jadi ini adalah “pembalasan” setelah sebelumnya kubu lain
meng-analogi-kan pertarungan merebut tahta presiden ini layaknya Perang Badar. Dan
kalau ini memang skenario pembalasan dendam maka negeri ini ada diatas
perjuangan berlandaskan dendam.
Terakhir, mungkin
ini jadi renungan buat kita semua, umat islam khususnya,
"Wahai orang-orang yang beriman, Jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan aib orang lain; dan janganlah kamu mengumpat sebagian yang lain. Apakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, jauhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." ( QS. Al- Hujarat : 12 )
"Wahai orang-orang yang beriman, Jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan aib orang lain; dan janganlah kamu mengumpat sebagian yang lain. Apakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, jauhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." ( QS. Al- Hujarat : 12 )
Dan Petuah Ustadz Felix Siaw pagi ini :
1. Al-Qur'an menuntun soal kepemimpinan dan
pemerintahan | sebagaimana Al-Qur'an mengatur segala sesuatu yang lain
2. "ikutilah apa yang diturunkan kepadamu
dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya"(QS
7:3)
3. Ibnu Katsir menulis dalam tafsirnya |
"yakni ikutilah jejak Nabi yang ummi yang datang kepada kalian dengan
membawa Kitab"
4. masih dalam tafsir Ibnu Katsir |
"yakni, janganlah keluar dari ajaran yang dibawa oleh Rasul kepada kalian
menuju ajaran yang lainnya"
5. "(jangan) lalu kalian beralih dari
hukum Allah kepada hukum selain-Nya" | begitu tulis Ibnu Katsir mengenai
tafsir ayat ini
6. ayat ini jelas bermakna bahwa Allah melarang
kaum Muslim dan pemimpin kaum Muslim | untuk menerapkan hukum selain hukum
Allah Swt
7. larangan mengikuti hukum selain hukum Allah
ini bertebar ratusan dalam Al-Qur'an | misal QS 5:44, QS 5:45, QS 5:47, QS
5:49, QS 5:50
8. apa maksud hukum Allah? ialah syariat Allah,
yang terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah | yang Rasul amanahkan pada kita
sebelum wafat
9. maka Kitabullah dan Sunnah inilah yang
harusnya menjadi dasar hukum | bukan yang lain, bukan hukum yang dibuat lewat
proses demokrasi
10. karena dalam demokrasi yang halal dan haram
bisa ditentukan manusia | dalam Islam halal haram hanya Allah yang berhak
tentukan
11. maka Allah tidak hanya menuntut Muslim
untuk memiliki pemimpin | tapi mewajibkan pula pemimpin ini menerapkan hukum
Allah
12. Allah bukan hanya mewajibkan pemimpin
haruslah Muslim | tapi juga mewajibkan dia menerapkan Islam
13. saat dihadapkan pada pemimpin-pemimpin yang
tak mau menerap syariat | bukan lantas kewajiban mengingatkan ummat jadi hilang
14. justru mengingatkan ummat jadi kian penting
| saat orang hanya berdebat tentang 'siapa yang pantas', bukan 'dengan apa dia
pantas'
15. justru jadi makin penting untuk
mengingatkan setiap orang | bahwa tidak ada pemimpin yang pantas, tanpa
diterapkannya syariat Allah
16. harusnya kita bosan dengan seruan-seruan
yang mengunggulkan pribadi | tapi bukan mengunggulkan Islam yang dia bawa,
syariat Allah?
17. berani, tegas, berwibawa, tak ada artinya
bila bukan untuk Allah | merakyat, peduli, sederhana, percuma saja bila tak
terap Islam
18. sekecil apapun kebaikan bila karena Allah, Allah
akan melihatnya | sebesar apapun prestasi bila bukan karena Allah, nol
19. berhukum dengan hukum Allah itu wajib,
terlebih lagi pemimpin | harusnya semua Muslim jangan melupakan kewajiban mulia
ini
20. karena Al-Qur'an bukan diturunkan untuk
jadi pajangan | ada calon pemimpin yang berani menerapkan Al-Qur'an? kita
dukung
Semoga Allah Subhana Wa ta’ala memberikan
berkah-Nya buat kita semua. Wassalam.